Dua Mahasiswa IPB Ikut Ajang Internasional

 

JAKARTA – Dilansir dari lama okezon, Senin (16/4/2018), hal itu dialami oleh dua mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB). Mereka adalah Citra Atrina Sari, mahasiswa Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) dan Arwa Violaditya Rarasocta, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). Mereka mengikuti ajang Geneva International Model United Nations (GIMUN) 2018 di Kantor Pusat PBB Palais des Nations, Jenewa-Swiss, baru-baru ini.

Ajang internasional ini diadakan oleh GIMUN yang merupakan organisasi mahasiswa yang mempunyai status Special Cosultative langsung di bawah United Nations Ecoomic and Social Council (Dewan Ekonomi dan Sosial PBB).

Menariknya, Citra dan Arwa lolos pada ajang tersebut dengan fully funded atau biaya penuh yang diberikan dari Service de la Solidarité Internationale of the Canton of Geneva dan menjadi delegasi pada ajang Model United Nations (MUN).

MUN adalah simulasi sidang PBB, di mana setiap peserta akan berperan sebagai diplomat suatu negara. Setiap peserta akan menjadi perwakilan suatu negara dan berada di salah satu komite atau badan PBB untuk membahas isu permasalahan dunia sesuai tupoksi komite tersebut. Diharapkan komite tersebut dapat mengeluarkan resolusi atas diskusi yang telah dilakukan.

“Peserta membuat position paper yang menunjukkan posisi negaranya seperti apa terhadap isu permasalahan tersebut. Lalu memberikan kebijakan yang akan diambil sebagai negara anggota PBB menyelesaikan isu tersebut,” jelas Citra.

Citra mengatakan, pada simulasi sidang ia menjadi perwakilan negara Belanda di komite Human Rights Council PBB. Komite ini, sambung dia, membahas tentang terorisme dan minoritas.

Sementara itu Arwa, menjadi wakil dari Negara Oman pada komite Arab League. Ia menuturkan Arab League adalah organisasi regional yang terdiri dari negara-negara Arab yang bertujuan untuk memperkuat kerjasama regional dalam bidang ekonomi, sosial, politik, dan budaya.

“Di sana kami membahas dua topik, yaitu mengenai pembuatan panduan dalam pencegahan pembiayaan kelompok-kelompok teroris dan mengenai diversifikasi dan integrasi ekonomi antara negara-negara Arab,” jelas Arwa.

Citra menambahkan, dalam sidang tersebut, mereka tidak hanya dituntut untuk fasih berbahasa Inggris dan bertindak sediplomastis mungkin untuk menyampaikan gagasannya tetapi juga harus mengerti tentang negara tersebut dari posisi negara kebijakan, dan hubungan dengan negara-negara lain serta dampak dari kebijakan yang akan kita ambil.

“Sehingga memang harus banyak melakukan research dan analisis agar bisa mencapai suatu solusi atas isu yang dibicarakan. Tentunya tetap berusaha mempertahankan interest negara tersebut dalam bekerja sama dengan negara lain,” jelasnya.

Terakhir, Citra dan Arwa berharap dapat membagikan pengalaman ini kepada orang lain agar bisa menginspsirasi orang lain lebih banyak lagi. Mereka ingin menularkan semangat kepemudaan agar Indonesia diisi oleh pemuda yang bermental positif dan bisa bersaing hingga kancah internasional.

KIRIM EMAIL ANDA KE :
kampusindo@gmail.com
TWITTER
VIDEO