Mahasiswa Ubah Sabut Kelapa Jadi Produk Bermanfaat

239
Pot tanaman, hasil olahan sabut kelapa

Semarang – , mengolah sabut kelapa menjadi aneka komoditas yang prospektif untuk memberdayakan masyarakat di Desa Sembungharjo, Kelurahan Sembungharjo, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Selama ini, daerah Sembungharjo memang dikenal memiliki potensi pepohonan kelapa yang tumbuh subur. Akan tetapi, belum ada pengolahan limbah berupa sabut kelapa yang dihasilkan. Bahkan, sabut kelapa ini biasanya hanya sengaja ditimbun, dibakar, dan dibuang di sekitar rumah oleh para warga.

“Kami berpikir bahwa kami harus bisa mengoptimalkan limbah serabut kelapa untuk bisa menjadi beragam komoditas yang bernilai ekonomis dan prospektif,” kata Brigitta Pungki Yuliashari, mahasiswa Jurusan Administrasi Bisnis, Polines. Ia dan beberapa rekannya, memanfaatkan sabut kelapa yang mudah diperoleh di daerah tersebut.

Selain Brigitta, berapa rekan lainnya adalah Adib Riski Fauzi (Teknik Elektro), Balqis Ayu Wijayanti (Akuntansi), Nur Aini Virnanda Selly (Akuntansi), Yusuf Noufal Rahman (Teknik Sipil). Mereka tergabung melalui program Program Kreativitas Mahasiswa bidang (PKM-PM) Politeknik Negeri Semarang dengan pembimbing adalah Nurul Hamidah.

Program pemberdayaan masyarakat oleh para mahasiswa ini diadakan sebanyak 3 kali, mulai dari pelatihan pembuatan alas pot resin dan pupuk cocopeat, digital marketing, dan pembuatan pot kokedama dari cocofiber. Cocopeat sendiri merupakan tanam organik yang berbahan dasar dari sabut buah kelapa.

“Untuk pelaksanaan program dilakukan dengan mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Bahan baku diperoleh dari Bapak Warsito yang merupakan salah satu pendiri usaha pengolahan limbah sabut kelapa menjadi cocopeat dan cocofiber di Sembungharjo,” kata Balqis, salah satu anggota.

Sementara itu, untuk jenis tanaman yang digunakan yaitu tanaman TOGA seperti jahe dan lidah buaya, serta tanaman hias (lidah mertua, lili paris, bunga matahari). Selain itu, disiapkan pula benang rami, benang jahit, pupuk kompos, pupuk kandang, dan sekam bakar.

“Cocopeat harus melalui proses fermentasi selama lebih dari seminggu untuk menghilangkan kandungan tanin yang berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman,” ujar Balqis menambahkan.

Lurah Sembungharjo, Sumarjono, mengatakan bahwa para warganya sangat antusias dengan pelatihan yang diberikan oleh para mahasiswa Polines. Produk yang mereka buat cukup bagus dan selesai tanpa ada kendala dan diharapkan dapat menjadi ide bagi warga untuk bisa memanfaatkan limbah sabut kelapa yang melimpah tersebut.

“Kami harap, warga terutama kalangan ibu-ibu rumah tangga dan pelaku UMKM dapat mengembangkan kreativitasnya untuk bisa memanfaatkan limbah sabut kelapa sekaligus membantu mengatasi permasalahan limbah,” kata Sumarjono. (Polines/Nan)