Mahasiswa UIN Bukittinggi, Gelar Aksi Tolak Gubernur Sumbar, Mahyeldi

263
tangkapan layar instagram

Bukitinggi, Sumatera Barat – Sejumlah mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syech M Djamil Djambek, Bukittinggi, Sumatera Barat menolak kehadiran Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi saat datang ke kampus itu. Mahyeldi awalnya direncanakan memberikan orasi ilmiah saat acara Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) bagi mahasiswa baru, Selasa (22/8/2023).
Video penolakan itu beredar luas di media sosial. Terlihat Mahyeldi duduk di atas panggung, lalu sejumlah mahasiswa di lantai atas aula memasang spanduk penolakan.

Kemudian terlihat seseorang yang diketahui sebagai Presma UIN, Ahmad Zaki mengambil mikropon dan melakukan orasi. Orasinya tidak terdengar jelas, namun saat itu sejumlah orang mendatangi Ahmad Zaki untuk merebut mikropon. Ahmad Zaki yang dikonfirmasi membenarkan peristiwa tersebut terjadi Selasa (22/8/2023) saat acara PBAK mahasiswa baru sekitar pukul 15.00 WIB.

“Benar. Peristiwa itu sekitar pukul 15.00 WIB. Kami benar menolak kedatangan gubernur ke kampus,” kata Ahmad Zaki yang dihubungi Kompas.com, Rabu (23/8/2023).

Zaki mengatakan penolakan itu dikarenakan Gubernur Mahyeldi tidak peka terhadap persoalan masyarakat Air Bangis, Pasaman yang menolak kehadiran Proyek Strategis Nasional (PSN). Saat demo, penolakan PSN di Padang, kata Zaki, Gubernur tidak mau mendatangi dan menerima aspirasi mahasiswa.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by AKTIVIS KAMPUS (@aktivis.kampuss)

 

“Lima hari kami demo di Padang soal PSN itu, Gubernur tidak mau mendatangi dan menerima aspirasi mahasiswa,” jelas Zaki. Zaki menyebutkan untuk urusan menerima aspirasi mahasiswa dan masyarakat, Mahyeldi tidak memiliki waktu, namun ketika ada acara seremonial bisa datang. “Kami menolak beliau datang ke kampus. Kami minta selesaikan dulu persoalan PSN ini,” jelas Zaki. Menurut Zaki, setelah peristiwa tersebut, Mahyeldi dan rombongan kemudian keluar dari aula, lalu pergi.

Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi Sumatera Barat Mursalim tidak menampik adanya insiden saat itu. Namun, dia membantah ada pengusiran. “Tidak ada Gubernur diusir, itu keliru. Saat itu memang ada insiden, kami hanya melihat tapi kami tidak mengetahui apa yang menjadi permasalahan utamanya, karena memang apa yang mereka suarakan tidak begitu jelas terdengar. Saat itu suasana begitu riuh,” kata Mursalim dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (23/8/2023).

Mursalim menjelaskan, sembari pihak kampus berupaya untuk menetralkan situasi dan waktu shalat Ashar hampir masuk, Mahyeldi minta izin sembari menunggu kepastian situasi kembali kondusif di masjid kampus.

“Kalau diusir tidak mungkin kami sempat shalat Ashar berjemaah di sana,” tegas Mursalim. (*)

Ikuti klarifikasi berita ini di sini 

Comments are closed.