Puisi: Kesetiaan (Karya: Micania)

119

Bila aku merasa ketidakwarasan di tengah teknologi yang semakin canggih
Di tengah waktu yang begitu cepat berputar
Aku terdiam, tidak bisa bergeming
Bagaimana ini? Apa yang tengah terjadi?

Kejujuran yang dulu katanya bisa membawa kesuksesan
Kini telah hilang entah kemanaku telurusi bangunan-bangunan yang mengejek dan menghinaku
Tanpa belas kasihan
Ku coba pahami semua ini
Tapi…
Tetap saja tak bisa kupahami
Walau sebenarnya ku enggan tuk memahaminya

Karena aku tak ingin pikiran yang kotor ini
Kotor dengan ketidakwarasanku akan pentingnya ilmu dan pendidikan
Aku hanya berujar singkat
Aku terhipnotis,
Aku terhipnotis oleh ketulusannya yang tak menyerah sedikitpun
Yang tak mengeluh sepersen pun
Yang tak meminta agar aku membalas kesetiaannya
Ya, ia memang setia

Setiap detik, setiap menit, setiap satu kali dua puluh empat jam
Bahkan setiap tiga ratus enam puluh kali dua puluh empat jam
Ia selalu setia
Ia tak beranjak sedikitpun

Sekarang aku sadar, ia ada disini
Ia yang setia itu ada disini, di Gunung Pangilun

Ia yang selalu memberi arti ketulusan dan pengorbanan
Ia yang selalu memberi arti ilmu yang sesungguhnya
Ia yang selalu memberi arti pendidikan yang mutlak
Kini aku di sini, berada di Bangunan
Aku mengerti, setiap orang yang berada di sini
Mereka adalah orang-orang pilihan yang tak butuh tanda jasa

Nama :

Npm : 10080164

Sesi : E