Untad Perkuat Kerjasama Internasional

Menuju World Class University

Seperti harapan Rektor Universitas Tadulako Muhammad Basir yang ingin menjadikan Untad sebagai universitas kelas dunia, upaya untuk mewujudkan hal itu kian nampak. Kali ini, Untad beserta 22 pimpinan perguruan tinggi yang dominan berasal dari kawasan timur Indonesia mengadakan seminar penguatan kerjasama internasional yang berlangsung selama dua hari di Universitas Tadulako, Swiss-Bel Hotel dan di Gedung Gubernuran Siranindi Palu. Penguatan kerjasama internasional antar Perguruan Tinggi Negeri kawasan Indonesia Timur ini juga, dihadiri oleh ilmuwan asal Australia, Profesor Ismet Fanany, setelah sebelumnya menjadi pemateri dalam workshop jurnal internasional kemarin.

Basir, dalam sambutannya mengatakan, hubungan kerjasama antar universitas harus dikelola dengan baik agar menghasilkan luaran dari kerjasama yang telah dijalin. “Jangan hanya MoU-nya saja yang mesra lalu kemudian berlalu begitu saja tanpa menghasilkan keturunan” tandas rektor yang selalu menyelipkan guyonan dalam tutur katanya. Ia juga berharap agar hubungan kerjasama yang telah dibangun akan terlaksana secara berkelanjutan. Mengutip perkataan Basir, Koordinator Konsorsium Perguruan Tinggi Negeri Kawasan Timur Indonesia, Profesor Dedy Tickson menegaskan, hubungan kerjasama perlu diperkokoh untuk menghasilkan produk yang berkualitas.

Dalam seminar pengembangan kerjasama internasional yang dimoderatori oleh Joko Nugroho, pimpinan Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, menampilkan dua pembicara masing-masing dari Universitas Indonesia, Junaedi dan Institut Teknologi Bandung, Edwan Kardena yang keduanya merupakan direktur international office(IO). Dalam presentasi dikatakan, peran IO dalam menjalin kerjasama internasional sangat penting. IO sebagai fasilitator hubungan luar negeri harus mendapat dukungan penuh dari pimpinan perguruan tinggi agar kinerjanya bisa maksimal. “Mendirikan IO yang paling penting adalah dorongan dari rektor berupa dukungan yang dituangkan kedalam SK” tutur Joko.Mengenai pengalamannya selama menjadi direktur IO, membangun hubungan baik menurutnya akan menjadi sebuah kekuatan untuk terus maju dan berkembang. “Hubungan baik yang terjalin menjadi suatu kekuatan untuk memaksimalkan potensi” tandasnya.

Selang beberapa waktu setelah berakhirnya presentasi dari kedua direktur International Office, penandatanganan nota kesepahaman (MoU) digelar.Penandatanganan ini disaksikan oleh pimpinan universitas dari 22 PTN yang umumnya berasal dari Indonesia timur dan sebagian kecil Indonesia Barat, termasuk diantaranya ITB, UI, Veteran, Telkom, Unair, Brawijaya, Universitas Jambi dan Bengkulu.