Danau Maninjau, Sebagian Tercemar. Dilihat Dari Jenis Plankton

by

in

Departemen Biologi, FMIPA, Universitas Andalas melakukan Kuliah Lapangan Planktonologi di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Dari hasil plankton yang didapatkan sebagian peraian sudah tercemar, diduga akibat nutrisi yang berlebihan dari sisa pakan ikan sistem keramba

“Kami mengambil sampel pada beberapa titik dengan beberapa pengurangan pada waktu yang ditentukan. Kami mendapatkan hasil yang berbeda,” kata Dr. Jabang Nurdin, dosen Universitas Andalas, Senin (5/2)

Kegiatan itu untuk melihat kondisi perairan Danau Maninjau dan keanekaragaman plankton yang ada di perairan ini serta memberikan informasi kepada masyarakat di sekitar Danau Maninjau.

Jabang Nurdin, yang juga ahli Ekologi perairsn itu menyebutkan terdapat tiga titik pengambilan sampel.

Pada lokasi pertama banyak ditemukan organisme kelas Cyanophyceae. Keanekaragaman Cyanophyceae pada suatu perairan dapat dijadikan sebagai bioindikator untuk melihat tingkat ketercemaran airnya. Kriteria nilai indeks keanekaragaman (H’) dengan rumus (H’= – ∑ pi ln pi) sebagai berikut apabila jika H’<1 keanekaragaman rendah, 13 keanekaragaman tinggi. Dapat disimpulkan bahwa semakin rendah nilai indeks keanekaragamannya maka semakin kecil tingkat keanekaragaman jenis plankton tersebut.

“Itu artinya, perairan tersebut telah terindikasi adanya pencemaran karena nilai indeks keanekaragamannya yang sedang,” jelasnya.

Pada lokasi kedua, lanjut Jabang Nurdin dilihat dari segi organisme zooplankton bahwa nilai indeks keanekaragaman 2,60. Hal ini dikarenakan lokasi kedua merupakan kawasan keramba jaring apung dan perairan banyak mengandung nutrient yang tinggi yang memicu terjadinya eutropikasi pada danau tersebut.

Pada lokasi ketiga didominasi plankton jenis Navicula cuspidata dan Cosmarium decoratum dan lokasi keempat sebagai kontrol dan tidak adanya aktivitas keramba jarring apung (KJA) ataupun aktivitas warga sekitar plankton yang dominan oleh jenis Synedra ulna.

Proses pengambilan sampel dilakukan oleh 17 mahasiswa pada akhir Oktober 2022 lalu. egiatan ini dipandu oleh dosen Dr. Jabang Nurdin dan Dr. Nofrita dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.

Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang cukup besar diantara beberapa danau yang terdapat di Sumatera Barat. Danau ini memiliki ketinggian sekitar 461,50 meter dpl, luas permukaan sekitar 9.737,50 ha, panjang sekitar 16,46 km dan lebar sekitar 7,5 km, keliling sekitar 65 km, volume air 10.226.001.629,2 m3 dan kedalaman maksimum 105 m., kedalaman rata-rata 157.

Sebagian besar catchment area Danau Maninjau termasuk dalam Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Letaknya sangat strategis karena hanya memiliki jarak yang cukup dekat dengan beberapa pusat kota Bukittinggi dan Padang.

Dari informasi penduduk setempat, bahwa dahulunya masyarakat sekitar danau memanfaatkan kekayaan alam Danau Maninjau dengan sangat bijak dan hati-hati. Namun saat ini, masyarakat memanfaatkan kekayaan alam Danau Maninjau kurang memperhatikan aspek keberlanjutannya.

Danau Maninjau ini dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti perikanan, PLTA (Pembangkit Tenaga Listrik Air), pariwisata, perkebunan, pertanian, MCK (Mandi Cuci Kakus) dan juga ada tempat pembuangan limbah domestik. Sekarang semakin menjamur kegiatan budidaya ikan sistem keramba jaring apung. bahkan dapat melebihi daya dukung danau yaitu sekitar 15000 unit (Puslit Limnologi LIPI, 2009).

Keramba Jaring Apung memiliki peluang, masalah, dan solisi. Keramba jaring apung adalah salah satu wadah budidaya perairan sistem intensif dan cukup ideal, yang ditempatkan dalam badan air seperti waduk, danau, dan juga ada perairan laut laut. Keramba jaring apung banyak di Danau Maninjau ini dengan prinsip bahwa ikan air tawar dapat dipelihara dalam keramba jaring apung.

Proses Pengamatan Plankton

Ditambahkan Dr Nofrita, pengamatan plankton menggunakan metoda Purposive Sampling dengan tiga kali ulangan pada setiap lokasi pengambilan sampel.

Lokasi pertama pada Taman Muko-Muko yang merupakan objek wisata di Danau Maninjau dan pemancingan ikan, ke dua merupakan salah satu arae Keramba Jaring Apung (KJA), lokasi ke tiga merupakan tempat air masuk (inlet), dan lokasi ke empat merupakan area kontrol yang jauh dari permukiman warga dan tidak ada KJA.

Sebelum ke Danau Manjau, sebut Dr Nofrita yang juga dosen di Biologi Unand pihaknya telah memastikan kondisi alat dan bahan yang digunakan untuk pengambilan sampel plankton itu dakam kondisi baik dan ketersediaan bahan yang diperlukan.

Dr. Nofrita juga menjelaskan kita plaknton merupakan organisme yang hidup diperairan, berukuran kecil dan tidak dapat dilihat secara langsung dan memerlukan bantuan alat berupa mikroskop.

Plankton dalam hal ini dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik.Plankton sangat berperan penting pada ekosistem perairan karena dapat dijadikan sebagai bioindikator (penunjuk kondisi perairan).

Setibanya di Danau Maninjau, para mahasiswa langsung bergegas mengerjakan masing-masing tugasnya sesuai dengan pembagian tugas yang telah disepakati di Laboratorium Ekologi Hewan, Departemen Biologi, Universitas Andalas seperti yang mengambil sampel air, yang mengukur faktor fisika dan kimia perairan, mencatat kondisi perairan, tanaman sekitar lokasi pengambilan sampel perairan, dan penduduk sekitar pengambilan sampel.

proses pengamatan sampel di laboratorium

Pengambilan sampel plankton perairan danau ini pada pagi, siang dan sore hari dan dilanjutkan diskusi pada malam harinya dengan dosen pengampunya.

Di Danau Maninjau, para mahasiswa melakukan pengukuran faktor fisika-kimia lingkungan seperti pengkuran suhu air, pH, oksigen terlarut, karbondioksida bebas, serta kuat arus.

Dengan harapan mahasiswa ini langsung melihat kondisi suatu perairan ini melalui jenis plankton didapatkan dan sebagai informasi bagi masyarakat sekitar danau dan pemangku kebijakan. Setelah itu, para mahasiswa melakukan pengambilan sampel plankton. Pengambilan sampel plankton ini dilakukan dengan menggunakan alat plankton net (alat pengambil organisme plankton) dengan ukuran mesh size yang disesuaikan dengan plakton yaitu No. 15 atau No. 20.

Sampel air diambil dengan menggunakan metode timba sebanyak 100 liter air. Pengambilan sampel plankton dilakukan di empat lokasi yang berbeda yang mengelilingi Danau Maninjau. Pada setiap lokasi pengambilan sampel plankton dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan pengambilan sampel air. Setelah itu, sampel plankton yang tersaring dimasukkan ke dalam botol sampel volume 25 ml.

Kemudian, sampel diawetkan dengan pemberian formalin 4% lalu diberi label sesuai dengan lokasi pengambilan sampel.
Kemudian, sampel plankton yang telah diperoleh diidentifikasi jenisnya di

Laboratorium Ekologi Hewan, Departemen Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Sampel plankton diambil sebanyak sepuluh tetes dari setiap botol sampel lalu dilihat dengan mikroskop. Perbesaran yang digunakan untuk melihat plankton yakni 4×10 dalam mikroskop.

Kemudian, plankton diidentifikasi dengan beberapa buku identifikasi plankton seperti Bold and Wynne (1985) dan Pascher (1986) serta mengidentifikasi secara online dengan Algaebase (https://www.algaebase.org/) dan ITIS atau Integrated Taxonomic Information System (https://www.itis.gov/).

Hasil identifikasi jenis plankton yang berada di Danau Maninjau didapatkan lima puluh sembilan spesies plankton dan 1.036 individu. Selanjutnya, setiap spesies yang ditemukan dihitung jumlah individunya. Hal ini untuk menentukan apakah spesies tersebut hidup dalam kondisi bersoliter atau berkoloni.

Kemudian, hasil identifikasi bahwa pada lokasi pertama individu fitoplankton yang mendominasi yaitu jenis Cosmarium decoratum dan Staurastrun playfairi dengan nilai indeks keanekaragaman 2,71, kondisi perairan tersebut berada dalam kategori sedang.

Jabang Nurdin berharap dengan hasil yang didapat dari kuliah Lapangan itu dapat menimbukkan kesadaran bersama-sama menjaga kestabilan lingkungan perairan di sekitar Danau Maninjau

“Agar tercipta lingkungan danau yang bersih dan terhindar dari pencemaran air sehingga Danau Maninjau menjadi habitat yang berpotensi baik bagi biota perairan seperti ikan serta berpotensi untuk meningkatkan nilai ekonomis yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar.,” Sebut Dr Jabang Nurdin didampingi Dr Nofrita (*)