Sidat “Ikan Panjang“, Bernilai Tinggi, Namun Terancam Punah di Sumbar

by

in

Oleh : Vivi Novianti S.Si

Sidat (Anguilla spp.), yang oleh orang Sumatera Barat lebih dikenal dengan nama ikan panjang merupakan salah satu ikan air tawar yang bernilai ekonomis penting karena nilai jualnya sangat tinggi, tetapi kurang dikenal oleh masyarakat Indonesia, apalagi masyarakat Sumatera Barat, padahal di luar negeri sangat populer dan termasuk jenis ikan kelas I di Jepang.

Sepintas ikan ini terlihat seperti ular atau belut, tapi secara ilmiah, bentuknya anguilik, seperti pipa, di dekat kepala ada sejenis telinga dan ada sirip pada bagian atas tubuhnya. Kita mungkin sering melihatnya di pasar, tapi jarang yang tahu. Padahal harga makanan olahannya sangat mahal (seporsi Kabayaki makanan olahan dari Sidat di Jepang hampir Rp. 400 ribu).

Sidat (Anguilla spp.) tidak sebatas lezat disantap karena memiliki kandungan nutrisi yang tinggi (16,4% Protein dan 4700 IU Vitamin A) tapi siklus hidupnya juga sangat unik. Sidat hidup di dua alam: berpijah di laut, lalu bayi-bayi sidat akan mencari air tawar untuk melanjutkan hidupnya sebelum belasan tahun kemudian__ ketika sudah dewasa__ kembali lagi ke laut. Siklus hidup itu bebanding terbalik dengan Salmon, yang berpijah di air tawar dan tumbh dewasa di laut. Bedanya kita sudah mengenal dan mengeksploitasi Salmon, sedangkan Sidat? ”No Body Knows”.

Hal inilah yang membuat Hagi Yulia Sugeha, Peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI melakukan Penelitian tentang ”Biodiversitas, Distribusi, dan Kelimpahan Ikan Sidat (Anguilla spp) di Perairan Indonesia serta Asosiasinya dengan Faktor-faktor Lingkungan”, dari tahun 2004 sampai sekarang (memasuki tahun ke-4) dan dijadwalkan baru selesai tahun depan. Pada tahun 2006, Yulia (35 tahun) memplot 6 lokasi di Perairan Indonesia, yakni muara Sungai Batang Antokan (Sumatera Barat), muara Sungai Cibaliung (Banten), muara Sungai Palu (Sulawesi Tengah), muara Sungai Dumoga (Sulawesi Utara), muara Sungai Akelamo (Maluku Utara), dan muara Sungai Pami (Papua Barat). Bu Yuli datang ke Padang untuk meneliti sidat di Kab. Agam, Kec. Tanjung Mutiara, Kenagarian Tiku V Jorong, kebetulan lokasi itu tidak jauh dari kampung penulis di Pariaman, yakni muara Sungai Batang Antokan/Tiku. Penulis ditugasi menemani beliau dan Timnya oleh Senior penulis yang juga kerja di PUSLIT Oseanografi LIPI, Afdal S.Si yang merupakan kakak tingkat penulis sewaktu kuliah di Univ. Andalas, jurusan Biologi Padang.

Berawal dari ditanya-tanyai, penulis akhirnya ditawari terlibat langsung dalam penelitian jenis ikan yang sering disangka ular atau belut itu. Pucuk dicinta, belakangan penulis bisa menyelesaikan Sarjana lewat proyek itu bahkan mendesain proposal hibah penelitian untuk adik-adik tingkat penulis (TPSDP) di juruan Biologi Univ. Andalas, untuk melanjutkan dan melengkapi penelitian penulis di lokasi yang sama, dan Alhamdulillah lolos dan sekarang sedang dalam tahap analisis data.

Berkat proyek ini pula penulis direkomendasikan oleh Ajun Peneliti Utama (APU) di Puslit Oseanografi LIPI-Jakarta, Dr. Sam Wouthuyzen, M.Sc, Ketua Jurusan Biologi, Dr. Syamsuardi dan Guru Besar, Prof. Dr. Nurdin Muhammad Suin untuk mengambil Master di Insitut Pertanian Bogor pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan tahun ajaran 2007/2008, namun sayang penulis tidak lulus seleksi, karena kebetulan yang diterima di mayor yang penulis ambil yakni mayor Manajemen Sumberdaya Perairan sebanyak 7 orang adalah Sarjana Perikanan (S.Pi) semua, sementara penulis adalah Sarjana Sains (S.Si).

Hasil penelitian penulis menunjukkan bahwa species sidat yang memasuki muara Sungai Batang Antokan selama empat penelitian hanya terdiri dari satu species yaitu A. bicolor bicolor. Berdasarkan penelitian terdahulu oleh Jespersen (1942) dan Setiawan (2002) dilaporkan diwilayah perairan Indonesia bagian barat, ditemukan tiga jenis sidat tropis yaitu A. bicolor bicolor, A. nebulosa nebulosa dan A. marmorata. Tidak ditemukannya A. marmorata dan A. nebulosa nebulosa di wilayah perairan Indonesia bagian barat selama penelitian ini menimbulkan kekhawatiran kemungkinan terancamnnya kelangsungan populasi spesies tersebut di perairan ini.

Ketidakmunculan A. nebulosa nebulosa dan A. marmorata selama penelitian menjadi suatu hal menarik yang patut dipertanyakan. Beberapa hal yang dapat menjadi bahan pertimbangan yaitu kemungkinan adanya penurunan populasi spesies tersebut di alam. Selain itu diperkirakan karena pada saat sampling bukan merupakan musim rekruitmennya, serta kemungkinan adanya perbedaan jarak tempuh antara wilayah pemijahan dengan wilayah pembesaran dapat menjadi salah satu penyebab kurangnya A. nebulosa nebulosa dan A. marmorata yang memasuki Muara Sungai Batang Antokan. Pengrusakan sumber daya alam dan lingkungan oleh manusia bisa juga menjadi penyebab tidak ditemukannya spesies tersebut diwilayah ini.

Oleh karena itu menjadi kewenangan PEMDA setempat yang meliputi kewenangan konservasi dan pengelolaan sumberdaya alam serta tanggung jawab untuk melestarikannya. Dalam hal ini dibutuhkan PERDA untuk perlindungan wilayah rekruitmen dan pemijahan sidat di sepanjang daerah aliran Sungai Batang Antokan.

Lebih jauh, kemungkinan adanya lebih dari satu wilayah pembesaran (selain Muara Sungai Batang Antokan) dapat menjadi berkurangnya A. nebulosa nebulosa dan A. marmorata serta bencana alam tsunami yang terjadi diakhir 2004 berkemungkinan dapat mengakibatkan berubahnya pola migrasi dari spesies tersebut. Untuk sampai pada kesimpulan yang akurat, perlu kiranya melakukan penelitian lanjut sebagai upaya klarifikasi terhadap segala kemungkinan yang ada.

Ada 18 spesies dan subspesies sidat di dunia, 7 diantaranya menghuni perairan Indonesia dan 3 dari 7 spesies yang ada di Indonesia terdapat di Sumatera. Anguilla borneensis yang menghuni Sungai Mahakam (Kalimantan Timur) diduga sebagai ancestral atau nenek moyang dari seluruh sidat yang tersebar di dunia . Permintaan konsumsi sidat yang terus meningkat mendorong berkembangnya industri usaha budidaya sidat di negara maju, seperti Amerika, negara-negara Eropa, Jepang, Hongkong, Taiwan dan China, namun usaha ini masih sangat tergantung pada ketersediaan benih sidat stadia juvenil (glass eel) di alam karena upaya pembenihan sidat masih belum berhasil dan masih dalam tahap penelitian di laboratorium.

Di Hongkong, Taiwan, dan Jepang penangkapan benih sidat di alam berlangsung secara intensif untuk tujuan budidaya. Hal ini telah menyebabkan terjadinya penurunan stok benih sidat di alam. Sejak tahun 1950-an Jepang mulai kekurangan benih sidat dan terpaksa harus mengimpor dari negara lain seperti Taiwan, Korea, dan Indonesia. Jepang sendiri memerlukan 220 ton glass eel/tahun guna menunjang industri budidaya sidat di negaranya. Impor glass eel dari Eropa telah pula dilakukan Jepang sebagai akibat penurunan stok glass eel di perairannya. Beberapa tahun terakhir upaya import benih sidat telah merambah ke wilayah tropis, termasuk Indonesia, sebagai pusat penyebaran sidat di dunia.

Di Indonesia usaha pembesaran secara intensif dan terkontrol pernah dilakukan pada tahun 1995-1997 di Sukabumi, tetapi kesulitan mencari benih merupakan kendala utama sehingga usaha itu tidak berlangsung lama, hal ini dikarenakan ketidaktahuan masyarakat setempat mengenai kapan waktu yang tepat untuk menangkap benih sidat/ juvenil yang bermigrasi dari perairan asin ke perairan tawar. Ketersediaan ikan ini dipasaran baik kontinuitas maupun kuantitas tidak dapat dijamin dan sangat tergantung dari keberhasilan usaha penangkapan di alam.

Melihat bahwa ikan sidat memiliki tantangan dan potensi yang sangat menarik baik dari sisi ilmiah maupun komersial, maka perlu segera dilakukan penelitian untuk mendapatkan informasi bioekologi ikan sidat di perairan Indonesia. Sayang sekali organisme unik ini belum banyak dikenal masyarakat Indonesia apalagi dikaji lebih jauh secara ilmiah melalui penelitian yang intensif menyangkut bioekologi sidat tropis masih sangat kurang.

Hingga kini belum banyak penelitian khusus mempelajari tentang keanekaragaman sidat Indonesia, kecuali yang dilakukan oleh peneliti asing di tahun 1928-1930 (Carlbergs’s Expedition), Castle dan Wiliamson (1974), dan oleh beberapa lembaga (BPPT, IPB, UNSRAT, ORI Univ. Tokyo, P2O-LIPI dan Univ. Andalas), padahal Kepulauan Indonesia memiliki berpuluh-puluh muara sungai atau wilayah estuari yang potensial bagi rekruitmen juvenil sidat (glass eel) karena dikelilingi oleh lautan dan samudera yang potensial sebagai daerah pemijahan sidat tropis.

Sumatera barat memiliki 6 lokasi yang berpotensi sebagai daerah pembesaran sidat, yakni Kab. Pesisir Selatan, Kota Padang, Kota Pariaman, Kab Agam, Kab. Pasaman, dan Kab. Mentawai) yang merupakan sungai-sungai besar yang airnya bermuara ke laut. Untuk itulah, sudah menjadi Pekerjaan Rumah “PR” Besar buat Departemen Kelautan dan Perikanan Propinsi Sumatera Barat agar dapat mulai mengeksploitasi sidat melalui pemanfaatan sumberdaya hayati tersebut untuk kebutuhan peningkatan ekonomi dan perbaikan gizi masyarakat lewat usaha budidaya dan pengembalian ke alam (re-stocking), serta merubah pengelolaan sumberdaya perikanan dari pola perikanan tangkap menuju perikanan budidaya merupakan salah satu alternatif untuk melindungi sumberdaya ini dari ancaman kepunahan, oleh karena itu informasi ilmiah mengenai bioekologi sidat sangat diperlukan untuk tujuan budidayanya.

Seperti yang disampaikan Wakil Gubernur Prof. Dr. Marlis Rachman, M.Sc. dalam sambutannya pada penerbitan buku “ Membangun Kelautan dan Perikanan Berbasis Kerakyatan “ karangan Dr. Ir. H. Eni Kamal, M.Sc yang merupakan dosen tetap pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta, Direktur Pascasarjana Univ. Bung Hatta dan juga Ketua Pusat Studi Pesisir dan Kelautan Bung Hatta bahwa “ Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, Raksasa Ekonomi Yang Masih Tidur”. Untuk itulah, marilah semua pihak yang terkait, tidak hanya kalangan universitas dan lembaga penelitian, Departemen Kelautan dan Perikanan, tapi juga para pelaku ekonomi untuk tujuan budidaya dan perdagangan internasional bersama-sama mengelola sumberdaya ekonomis penting ini. (*)

Tulisan ini pernah dipublikasikan tahun 2007