Cerpen: Kenapa Harus Aku (Karya: Lili Yanuarti)

144

KENAPA HARUS AKU

Oleh: Lili Yanuarti

Riski harus terlahir sebagai anak cacat. Diusianya yang masih kecil ia meski menanggung beban hidup yang sangat pedih. Ia harus berjalan dengan satu kaki karena kaki kanan Riski cacat sejak dia berusia 3 tahun. Tapi Riski bersyukur kepada tuhan dia masih diberi kesempatan untuk bisa berjalan dan tuhan tidak mengambil ke dua kakinya dan ia juga bersyukur karena ia menganggap dirinya berbeda dengan anak-anak yang cacat lainnya kalau anak cacat yang lainnya berjalan menggunakan tongkat tapi lain dengannya ia mampu berjalan dengan satu kaki.

Walaupun Riski terlahir sebagai anak cacat. Namun, di sekolah ia sering mendapat juara kelas tidak heran kalu sayang kepadanya. Selain pintar ia juga baik. Karena kebaikan Riski tidak sedikit yang berteman dengannya walaupun ada yang sering mengejek karena keadaannya.

Kondisi Riski seperti ini tidak membuat ia menyerah untuk menjalani hari-harinya di sekolah ia dipanggil oleh temannya pincang. Teman-temannya juga sering mentertawakannya tapi dengan bangga ia membalas teman-temannya dengan suara lantang “ya, saya pincang”. Berbagai ejekan yang datang dari teman-temannya hanya bisa ia berikan sebuah pengakuan.

Suatu hari Riski bertanya kepada ibunya sambil menangis. Kenapa ia harus telahir sebagai anak cacat. Karna dia cacat ia sebagai bahan olok-olokan oleh temannya. Ibunya tidak menjawab pertanyaan Riski. Malahan ibunya balik bertanya, apakah kamu menyesal terlahir seperti ini?

Hari itu, untuk pertama kali ibu memarahinya dengan kasar. Ia tidak mengerti kenapa ibu bisa bereaksi sekeras itu. Padahal yang ia harapkan hanyalah penjelasan. Bukankah setiap anak punya hak untuk bertanya? lalu, ibu berbicara dengan nada keras.

“seharusnya kamu bersyukur masih bisa hidup walaupun dengan kondisi seperti ini masih banyak yang jauh lebih buruk keadaannya dari pada kamu.

Riski yang masih kecil tidak upaya melawan perkataan ibu, ia hanya bisa menangis dan meminta maaf. Hati ibu mana yang tidak iba melihat anaknya menangis. Emosi yang meluap-luap tadi seketika mencair begitu saja. Ibu memeluk Riski.

Hari itu tepatnya tanggal 10 SD Harapan Ibu mengadakan perlombaan yaitu lomba lari. Tidak sedikit dari siswa yang ikut perlombaan itu termasuk Riski. Para siswa telah antri di depan kantor untuk mendaftarkan namanya sebagai peserta lomba termasuk Riski anak pincang yang sering di ejek oleh temannya. Awalnya Riski ditolak untuk tidak ikut perlombaan dengan alasan karena kondisi kaki Riski. Ia mengiba-iba dan bermohon untuk tetap diizinkan mengikuti perlombaan tersebut. Karena panitia pelaksana tersentuh dengan semangat Riski ia menerima Riski sebagai salah satu peserta perlombaan.

Suara bel sekolah berbunyi hari menunjukan jam 12.00 WIB tertanda para siswa hendak meninggalkan sekolah menuju kerumah masing-masing. Dengan tergesa-gesa Riski keluar dari kelasnya dengan gembiranya. ia tidak sabar lagi untuk memberitahu ibunya kalau ia diterima sebagai peserta lomba lari. Setiba di depan pintu Riski yang merasakan kegembiraan tadi berobah menjadi sedih karna diejek oleh teman-temannya.

“Eh pincang… orang pincang seperti kamu mana bisa lari jalan aja masih sering jatuh ikutan lomba lari lagi. Pergi sana lomba lari aja sama kura-kura mana yang nyampe di finist duluan”.

hari itu Riski tidak membalas cacian temannya. Ia hanya diam dan berlari sambil menangis. Setiba di rumah Riski memanggil ibu dan memeluk ibunya sambil bercerita tentang ejekan temannya.

“Bu…apa benar yang dibilang sama teman-teman kalau orang pincang seperti aku tidak pantas untuk mengikuti lomba lari bu”?

ibu mana yang tidak sedih mendengar pengaduan anaknya. Lalu ibu berkata” tidak ada yang tidak mungkin anakku selagi kita berusaha pasti kita bisa. Allah paling tidak suka melihat umatnya yang menyerah sebelum maju”.

Riski yang mendengar perkataan ibunya . Ia bangkit semangat lagi. Lalu Riski bercerita kepada ibunya kalu ia hendak mengikuti perlombaan di sekolahnya Ibu yang mendengar merasa senang dan memberi riski semangat kalau ia pasti bisa.

“ Kamu harus buktikan kepada teman-temanmu apa yang dikatakan tentang kamu kalau orang pincang tidak bisa lari itu tidak benar” kata ibunya.

Hari yang ditunggu-tunggu telah datang senang barcampur cemas terpancar di wajah Riski. Kata-kata semangat selalu keluar dari mulut ibunya.

“semangat anakku…..semangat…..”! kamu pasti bisa. Buat ibu bangsa sama kamu.

Pluit tanda untuk bersiap-siap telah dibunyikan. Keringat bercucuran di kening Riski. Peserta mengambil posisi termasuk Riski. Pas hitungan tiga semua peserta lari dengan begitu kencangnya tetapi riski tertinggal oleh temannya. Ia berlari sambil meneteskanair mata. ia ingin sekali membuktikan kepada ibu da teman-temannya. Teman-teman yang mendahuluinya tadi berlari sambil mengejeknya.

“pincang……ayo lari”.

Karena kata-kata ibunya selalu teringat dan menjadikan ia lebih semangat. Teman yang telah mendahuluinya tadi terjatuh. Ia terus berlari ke garis finist. Dan ia bangga dan dapat membuktikan kepada orang-orang kalau orang pincang sekali pun pincang belum tentu tiadk bisa berbuat apa-apa.

                                                                                    Oleh: Lili Yanuarti

                                                                                                                        Sesi : G/10