Cerpen: Puisi Terakhir Untuk Sahabat (Karya: Armet)

146

CERPEN

PUISI TERAKHIR UNTUK SAHABAT

OLEH: ARMET

Pagi itu rasanya sangat indah sekali, matahari mulai memancarkan sinarnya, di antara sela-sela daun pohon yang ada, embun membasahi bumi sangat sejuk sekali. Pagi itu semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, suasana kos pagi itu rasanya sangat berisik sekali, ditambah lagi dengan suara musik yang berasal dari kamar-kamar kost yang ada. Cicakpun ikut serta dalam suasana pagi itu.

Pagi itu Meisha memulai aktivitasnya dengan rasa gembira, raut wajah yang penuh senyum dan ikhlas terpancar di wajah Meihsa. Seolah-olah pada saat itu tidak ada pikiran yang mengganjal dan menganggu dalam pikiran Meisha. Kian hari waktupun berjalan semua tugas-tugas pada hari itu sudah selesai Meisha kerjakan, dan semua perlengkapan yang berkaitan dengan mata kuliah pada hari itu sudah dimasukkan semuanya ke dalam tas.

Tanpa berfikir panjang, Meisha langsung mengambil kain handuknya dan menuju ke kamar mandi sambil memanggil temannya yang ada di kamar mandi depan.

“Rani… masih lama Ran?”

”bentar lagi Mei…” sahut Rani

“ada kuliah pagi dirimu?”

“ada!” jawab Meisha

Tak lama kemudian akhirnya siaplah Meisha mandi, iapun siap- siap pergi ke kampus dengan temannya yang waktu itu  kebetulan kuliah pagi.

“sudah siap Mei?” Rani memanggil

“sudah! Tunggu bentar?”

Tak lama kemudian mereka berangkat ke kampus. Langkah demi langkah mereka sampai di kampus. Mereka langsung masuk ke lokalnya masing-masing. Meisha duduk stembai di lokalnya bersama teman-teman di kelasnya sambil menunggu dosenya datang. Tidak lama kemudian akhirnya dosen datang.

“pagi semuanya?”

“pagi pak…” secara serentak mahasiswa menjawabnya

“ya! Sebelum mulai ke materi kuliah hari ini, silahkan kumpulkan tugas minggu lalu?

Semua mahasiswapun mengumpulkan tugasnya dan proses perkuliahanpun dimulai, seiring bergulirnya waktu akhirnya selesailah proses perkuliahan pada hari itu. Mataharipun sudah sampai pada porosnya panasnya sungguh luar biasa sekali seakan-akan ingin membakar kulit, burung-burungpun berterbangan di sekitar pohon-pohon yang ada, angin berhembus begitu lembut sekali. Pada saat itu Meisha dan Rani ingin pulang ke kostnya, di perjalanan mereka bercanda gurau layaknya kakak adik. Tidak lama di jalan, tiba-tiba Meisha pingsan dan jatuh ke aspal. Ranipun terkejut dan panik serta langsung berteriak meminta tolong.

“Tolong..tolong…tolooonggg…” teriak Rani

Datanglah orang-orang menolong Meisha, dan Meishapun langsung di larikan ke rumah sakit terdekat, dengan rasa panik dan sedih Rani menelpon kedua orang tua Meisha. Pas menerima telpon dari Rani, ibu Meisha kaget dan shock, akhirnya kedua orang tua Meisha buru-buru ke rumah sakit melihat Meisha, teman- teman Meisha yang lainpun juga ikut melihat.

Tidak lama kemudian akhirnya ibu Meisha menceritakan tentang kondisi Meisha yang sebenarnya kepada semua teman-teman Meisha.

“sebenarnya Meisha sudah lama menderita penyakit kanker otak!” kata ibu Meisha

“ apa?? Jawab teman-teman Meisha dengan serentak.

“Padahal saya perhatikan selama ini Meisha baik-baik saja..” kata salah satu teman Meisha

“ ya, selama ini Meisha memang terlihat baik- baik saja, penyakit ini sudah lama sebenarnya diderita Meisha yaitu sejak Meisha masih duduk di kelas 2 SMP..” kata kedua orang tua Meisha.

Belum sampai kedua orang tua Meisha bercerita, tiba-tiba Meisha siuman dan langsung kejang-kejang dan menjerit kesakitan, dan kedua kedua orang tua Meisha berteriak memanggil dokter.

“dokter..dokterr..dokterr…..tolong anak saya dokk?”

Akhirnya datanglah dokter menolong Meisha, tapi dengan sangat menyesal dokter tidak berhasil menyelamatkan Meisha. Meisha akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggalkan orang-orang yang dicintainya. Isak tanggispun pecah di rumah sakit tersebut.

Selesai pemakaman Meisha, Rani bicara pada teman-teman yang lain di kelas Meisha, bahwa sebelum Meisha meniggal ia sempat menulis sebuah puisi terakhir. Puisi itu berjudul tentang sosok sahabat sejati. Sekarang tinggal semua kenang-kenangan dari Misha. Semoga Meisha di tempatkan di sisi kanan yang maha kuasa, amin.

“Selamat jalan sahabatku”

(Armet G/2010)

-SELESAI-