Cerpen: Si Killer Pun Meninggal (Karya: Arnita)

163

Si Killer Pun Meninggal
Setelah tamat SMA, pastilah ada yang melanjutkan kejenjang yang tinggi. Ada yang milih untuk menikah, ada yang memilih untuk melanjutkan kuliah, dan ada juga yang memilih untuk bekerja. Melewati masa-masa ospek telah dilalui bersama angkatan baru, dan tiba saatnya mengikut seperti biasa. “Nilai? Wow… Jika dipikir-pikir, nilai itu gak harus di capai pakai otak yang pandai. Akan tetapi harus berpandai-pandai”. Tutur Lina. Lina anak ke-6 dari 7 bersaudara. Dia dikenal sebagai gadis baik, sanguin, peramah, dan suka kali aktivitas yang sibuk-sibuk. Bukan hanya itu, Lina di kenal sebagai cewe ontime. Paling benci sama orang yang jam karet. Sebelum masuk , dia memilih jurusan Jaksa Hukum. Akan tetapi, takut dengan air.. Takut stunami hehehe karena, saat itu kampus yang diminatinya dekat pantai, dan saat-saat itu juga lagi musim gempa. Seketika itu, dia memilih Psikologi. Hmm..

Menurut kakak-kakak senior, dosennya pada terbang-terbang. Dia pun memilih STIKES . Namun, dia takut darah.. Akhirnya dia pun memilih . Guru adalah cita-cita dia diwaktu kecil. Perjuangan masuk ke STKIP PGRI PADANG sungguh luar biasa.. Heheheheh tutur si gadis manis ini. Awal perkuliahan pun di jalaninya dengan ambisi yang kuat. Belum lama kuliah saja. Dia banyak dikenal oleh -dosen di kampusnya. Disemester itu juga, dia sedang berhadapan dengan dosen killer.

Dita.. Cepatan..!! Ia, ia, sabar knapa?? Cepatlah.. Entar dosen killer itu marah kalau telat. Itulah dialog singkat oleh Dita dan Vina yang diiringi oleh langkah kaki seribu mereka. Dua mahasiswi ini, selalu ontime jika hendak masuk kuliah. Tapi, tergantung dosennya juga sih.. Jika dia akan belajar dengan dosen killer, Dita dan Vina selalu ontime, dan jika dosennya selalu jam karet mereka pun ikut-ikutan jam karet.
“Tugas dikumpulkan!!” Tutur dosen killer ini. Mereka semua pun mengumpulkan tugas.
“Minggu depannya kita UTS.. Lina, beri kabar bapak ya di mana kelasnya”.
“Ya pak”.

Jawab Lina. Lina di kenal sebagai mahasiswi yang pintar dan selalu didekati oleh dosen-dosennya. Semua kepercayaan dosen, dia pegang. Bukan hanya itu, jika ada perkuliahan tambahan, selalu saja Lina yang mengatur waktu dan kelasnya dimana.
“Vina, aku pengen pulkam.. Dita berbicara dengan nada yang lembut.
Eh, kenapa pulkam? Minggu depan kan kita UTS.. Tutur Vina. Memikir sejenak.

“Eh ia, kenapa kita gak bilang langsung aja ke Lina?? Kita bilang, kalau UTS minggu depan diundur aja. Jadi kita semua sama-sama pulkam.. Bagaimana??”
Ide bagus tuh.. Tutur Vina.
Ketika selesai berdiskusi, Lina pun lewat di hadapan mereka..
“Linaa..” Tutur Vina..
Apa Vin?? Jawab lina. Vina pun mengusulkan hasil diskusi mereka ke Lina.
“Lin, bagaimana kalau UTS nya kita undur minggu depannya lagi?? Soalnya, aku pengen pulkam Lin.. Udah lama gak pulkam,, kangen mama..” Lina memikir sejenak.

“Gak bisa Vin”. Karena, Bapak udah bilang langsung ke aku kalau minggu depan kita UTS..” Tapi kan Lin… Belum sempat berbicara, Lina pun pergi. Hufh.. Gitu aja gak mau.. Tutur Dita dengan nada yang kesal.
“Ya udah, kita doain aja, supaya minggu depan tidak jadi ujian.. ok??
“Okelah..” Tutur Dita.

Minggu depan, seperti biasa, setiap hari selasa, sesi G angkatan 2010, UTS. Akan tetapi, Lina menerima telfon dari dosennya kalau dia tidak bisa hadir dan ujian, dikarenakan dia sakit, dan ujian diundur dua minggu lagi.
“Hooreee,,,,” Tutur satu kelas tersebut. Malamnya, mereka pun banyak yang pulkam. Lina pun ikut-ikutan pulkam. Karena mereka disemester empat, udah banyak yang selesai. Tak terasa udah dua minggu di kampung. Lina pun masih di kampung. Karena dia mengikuti hari syukuran. Tepatnya hari selasa, Lina tidak bisa ikut UTS. Dia pun memberitahu dosennya tersebut untuk ujian susulan.

Akan tetapi komunikasi mereka tidak bisa berjalan dengan lancar. Dosennya tidak menerima informasi dari Lina. Dosennya itu, segera mencari kelas lain yang sama-sama ujian dengan sesi Lina. Mereka pun akhirnya ujian. Lina sudah gelisah dengan hp nya. Dia pun menerima pesan singkat dari temannya dan membacanya.

“Lina, kamu dimana? Tanya seorang temannya. “Aku masih di kampung say”..
Kenapa tuh?? Kamu gak ke Padang? Kita ujian loh tadi.. Bapak tuh juga nanya kamu tadi. Kami udah bilang kalau kamu ada syukuran di kampung. Tapi gak ada respon”.
“Ya, aku juga udah coba hubungin nomor Bapak tuh, tapi gak diangkat-angkat Ta..”

Rasa cemas pun datang dipikiran Lina. Ketika kembali ke padang, Lina pun ingin bertemu dosennya di kelas. Saat itu juga, mereka pun belajar dengan Bapak itu. Lina sudah lebih dahulu datang ke kelas. Ketika sudah di kelas, Lina menunggu kawan-kawannya untuk menemani dia berbicara dengan dosen yang killer itu.

“Pak, ini Lina yang nelfon kemarin. Kemarin saya ada syukuran Pak di kampung. Jadi saya tidak bisa mengikuti UTS bersama Bapak”. Seketika itu juga.
“Apa?? Anda pulang kampung? Apa yang anda cari di kampung itu? Jawab dosen killer itu”. “Saya ada acara syukuran Pak, jadi tidak bisa ke Padang. Saya boleh ujian susulan Pak??” Tanya si cewe manis ini.
“Enak saja anda bilang ujian susulan! Saya telah menunggu kabar dari anda. Tapi anda tidak memberitahu saya”!!

“Ya Pak, saya tahu.. Saat itu saya dan keluarga sedang berdoa Pak.. Jadi saya tidak bisa mengangkat telfon Bapak..”
Dengan nada keras, si dosen pun berkata “Alasan!! Kalau anda tidak bisa membantu saya, bilang sejujurnya!!! Tidak usah berbohong dan berbelat-belit!!!”

Akibat nada keras itu, mata Lina berkaca-kaca dan Lina pun menangis tersedu-sedu. Huhuhuhu.. Tanpa di sadari, Lina pun menangis di hadapan teman-teman sekelasnya.
“Anda pikir saya bodoh apa!!” Tak ada balasan kata yang keluar dari bibir Lina. Setelah memaki-maki Lina, dosen killer itu pun melanjutkan perkuliahan. Dengan hati yang tenang, Lina pun berdoa dalam hati.
“ Ya Tuhan, ampuni aku jika aku salah.. Tapi, jika aku tidak salah, ijinkanlah dosen ku ini mengalami tangis yang ku rasakan saat ini.. Amin..”

Hanya itulah yang terucap dari kata hati Lina.Gadis lugu itupun mengikut perkuliahan bersama dosen killer itu. Dia pasrah, berapa pun nilai yang akan diberi akan di terima. Setelah seminggu berlalu, terdengar di telinga Lina, bahwa dosen yang mencaci-maki dia, mengalami kecelakaan. Gadis itu pun mulai mendoakan dosen killer itu supaya cepat sembuh. Mereka pun berniat ingin menjenguk dosennya itu. Akan tetapi, Lina tidak hendak bertemu dengan dosennya itu. Karena, sudah terlanjur benci dan malas melihat dosen yang killer itu. Satu minggu kemudian, dosennya meninggal. Ini berita yang mengejutkan dihati Lina.

Apakah kata hati Lina terdengar oleh Tuhan apa tidak.. Entahlah, mungkin udah takdir Bapak itu. Hari-hari pun sedikit menganggu pikiran Lina. Dia menyesal tidak menjenguk dosen killernya itu. Dia pun belum sempat minta maaf kepada dosennya. Jantung Lina berdetak kencang ketika melihat nilai-nilai semester duanya. Begitu sulit dipercaya, dan sangat sulit diterima di hati Lina. Dosen yang mencaci makinya dulu, memberi Lina nilai B.

“Pak, terimakasih ya Pak ya, atas nilai yang sudah Bapak berikan kepada ku.. Maafin Lina ya Pak ya, karena Lina sempat bikin hati Bapak kecewa. Meskipun Lina tidak bisa melihat Bapak lagi, namun kata-kata didik dan pelajaran yang Bapak berikan, masih tersimpan di hati dan otak Lina. Semoga, arwah Bapak di terima di sisi Tuhan”.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, hati Lina mulai tenang. Dia pun masuk ke-semester tiga dan bersahabat kembali dengan dosen-dosen yang baru.
“Komitmen ku, jika aku jadi dosen nanti, aku tidak akan mau menjadi dosen killer seperti dia”. Tahun berlalu, semester pun semakin lama semakin naik. Kini dia semester lima, tak terasa sebentar lagi dia hendak menyusun skripsi. Sigadis lugu ini hanya berharap, dia bisa bertemu dengan dosen-dosennya sebelum dia meninggalkan kampus yang penuh kenangan itu dan wisuda..

Karya Arnita / 10080318